Seorang ayah kesal dengan anaknya yang selalu saja lupa membawa membawa sesuatu ketika sekolah. Kadang PR ketinggalan, kadang pulpen, kadang buku catatan, dan banyak lagi.
Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengawasi sang anak sebelum berangkat sekolah. Ia memberi check list pada sang anak, berisi daftar apa saja yang harus dibawa.
"Semua sudah siap?" tanya sang ayah
"Siap!" jawab sang anak yakin.
Berangkatlah sang ayah mengantar anaknya.
Untuk meyakinkan tidak ada yang lupa, sang ayah sambil menyetir, mengulang check list sang anak yang duduk disampingnya.
"Nak, kamu sudah masukkan PR ke dalam tas?"
"Sudah, Pak!"
"Pulpen, penggaris, busur, dan jangka siap?"
"Sudah, Pak"
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Juli 2010
Salah Referensi
Menjelang musim dingin, seorang warga suku Indian tradisional bertanya pada kepala sukunya.
“Kepala suku, apakah musim dingin ini akan lebih dingin dari biasanya?"
Pertanyaan ini tentu saja wajar, karena biasanya kepala suku Indian di Amerika punya kekuatan magis yang bisa meramal cuaca di masa depan.
Akan tetapi karena kepala suku yang satu ini lebih suka gaya hidup modern ia sudah tidak tahu lagi bagaimana meramal cuaca dengan cara-cara kuno lagi. Akan tetapi ia harus menjaga wibawa sebagai kepala suku Indian yang memang umumnya dikenal ahli dalam meramal cuaca.
Maka dengan sembarangan ia bilang pada warga untuk mengumpulkan kayu karena musim dingin kali ini akan lebih dingin.
Toh, kalau tidak dingin, kayu tetap bisa digunakan kapan-kapan, pikirnya. Jauh lebih baik daripada kalau ternyata terlalu dingin tapi tidak ada kayu.
Maka berbondong-bondonglah warga Indian mengumpulkan kayu.
“Kepala suku, apakah musim dingin ini akan lebih dingin dari biasanya?"
Pertanyaan ini tentu saja wajar, karena biasanya kepala suku Indian di Amerika punya kekuatan magis yang bisa meramal cuaca di masa depan.
Akan tetapi karena kepala suku yang satu ini lebih suka gaya hidup modern ia sudah tidak tahu lagi bagaimana meramal cuaca dengan cara-cara kuno lagi. Akan tetapi ia harus menjaga wibawa sebagai kepala suku Indian yang memang umumnya dikenal ahli dalam meramal cuaca.
Maka dengan sembarangan ia bilang pada warga untuk mengumpulkan kayu karena musim dingin kali ini akan lebih dingin.
Toh, kalau tidak dingin, kayu tetap bisa digunakan kapan-kapan, pikirnya. Jauh lebih baik daripada kalau ternyata terlalu dingin tapi tidak ada kayu.
Maka berbondong-bondonglah warga Indian mengumpulkan kayu.
Selasa, 06 Juli 2010
Mental Sukses
Sambil menunggu bis kampus datang, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, iseng-iseng berbincang dengan seorang pengemis tua yang sejak lama selalu nongkrong di halte bis UI.
“Sudah lama ngemis di sini, Pak?”
“Ya … lebih kurang sudah 10 tahun, Nak.”
“Wah lama juga ya, biasanya dapat berapa sehari, Pak?”
“Paling sedikit Rp 30.000, kadang bisa 50.000, kalau jumatan bisa dapat 100.000."
"Lumayan juga ya Pak!"
“Ya lumayan, buat kasih makan keluarga dan membesarkan anak-anak."
"Anak-anak sudah besar ya Pak?"
"Anak saya sudah besar semua, satu di UNJ Rawamangun, satu di IPB Bogor, yang paling tua di ITB Bandung. Semuanya di universitas negeri."
Mahasiswa itu begitu salut dengan sang pengemis, awalnya ia anggap remeh pengemis tua ini.
“Wah, hebat sekali ya, Bapak. Semua anaknya kuliah di universitas negeri"
“Oh ndak gitu, Nak. Anak saya semuanya mengemis, sama seperti saya. Memang keluarga kita pengalamannya mengemis di universitas negeri!"
Gubrak!!!!?????
Humor dan hikmah
“Sudah lama ngemis di sini, Pak?”
“Ya … lebih kurang sudah 10 tahun, Nak.”
“Wah lama juga ya, biasanya dapat berapa sehari, Pak?”
“Paling sedikit Rp 30.000, kadang bisa 50.000, kalau jumatan bisa dapat 100.000."
"Lumayan juga ya Pak!"
“Ya lumayan, buat kasih makan keluarga dan membesarkan anak-anak."
"Anak-anak sudah besar ya Pak?"
"Anak saya sudah besar semua, satu di UNJ Rawamangun, satu di IPB Bogor, yang paling tua di ITB Bandung. Semuanya di universitas negeri."
Mahasiswa itu begitu salut dengan sang pengemis, awalnya ia anggap remeh pengemis tua ini.
“Wah, hebat sekali ya, Bapak. Semua anaknya kuliah di universitas negeri"
“Oh ndak gitu, Nak. Anak saya semuanya mengemis, sama seperti saya. Memang keluarga kita pengalamannya mengemis di universitas negeri!"
Gubrak!!!!?????
Humor dan hikmah
Sabtu, 22 Mei 2010
Presiden dan Pameran Lukisan
Suatu hari seorang presiden sebuah negara pergi melihat pameran lukisan-lukisan.
Karena saat itu beliau mengalami sakit mata dan penglihatannya kabur, maka ia mengajak satu ajudannya untuk menuntunnya.
Presiden : “Wah, lukisan ini bagus. Gambar ikannya bener-bener hidup.”
Ajudan: “Shttt… Jangan keras-keras Pak. Itu gambar buaya.”
Kemudian mereka berpindah ke lukisan lain.
Karena saat itu beliau mengalami sakit mata dan penglihatannya kabur, maka ia mengajak satu ajudannya untuk menuntunnya.
Presiden : “Wah, lukisan ini bagus. Gambar ikannya bener-bener hidup.”
Ajudan: “Shttt… Jangan keras-keras Pak. Itu gambar buaya.”
Kemudian mereka berpindah ke lukisan lain.
Langganan:
Postingan (Atom)